Bermedia ala Warga Besuki

Home / Kegiatan / Akses Informasi / Bermedia ala Warga Besuki

Pada Workshop yang kedua kali ini, lebih menekankan tentang media skills. Ini dimaksudkan untuk semakin menguatkan posisi dan peran pengelolaan media sebagai arena kampanye kasus lumpur Lapindo. Acara workshop kali ini difasilitasi oleh beberapa orang, diantaranya oleh Catur Nusantara (Kanal NewsRoom), Henri Ismail (Poros Photography, Jakarta), dan Ahmad Faishol (MediaLink, Jakarta). Sementara untuk narasumber sendiri hadir Yovinus Guntur dari VHR Media, Indra Harsaputra dari Jakarta Post, dan jarwo Kuncoro dari Bingkai Indonesia. Acara pagi itu yang bertempat di Sanggar Alfaz dihadiri oleh banyak peserta, tidak hanya warga Besuki saja yang hadir, tetapi juga terlihat beberapa mahasiswa. Sementara itu, Cak Catur bertugas untuk memandu acara seperti workshop pertama yang lalu. Indra Harsaputra selaku jurnalis dari Jakarta Post diberikan kesempatan pertama untuk menyampaikan materi. Dalam penyampaian materi, Indra menekankan bahwa sebagus-bagusnya informasi jika tidak tersalurkan lewat media akan menjadi sia-sia. Sementara di sisi yang lain, ia juga mengakui bahwa setiap media memiliki arah pemberitaan yang berbeda-beda. Sehingga untuk menyiasati kondisi demikian, menurutnya warga saat ini bisa memanfaatkan media alternatif yang ada. Tidak hanya tergantung pada media mainstream semata. Media alternatif yang bisa digunakan juga beragam, mulai dari blog, social media dan lain sebagainya.

Dalam kesempatan tersebut, Indra juga menuturkan bahwa Jakarta Post memiliki ikhtiar tersendiri dalam memberitakan korban lumpur Lapindo. Setidaknya dalam setiap dua bulan sekali, Jakarta Post selalu menurunkan berita tentang lumpur Lapindo.

Setelah Indra selesai memaparkan materi, kemudian disambung dengan diskusi. Untuk sesi diskusi ini ada warga yang menanyakan bahwa mereka sudah mengalami kebosanan dengan pemberitaan lumpur Lapindo yang hanya menekankan pada proses ganti rugi semata. Padahal menurut mereka dengan adanya bencara tersebut, kerugian yang mereka alami tidak hanya sebatas kerugian materi semata. Pada aspek ini, jarang sekali media menurunkan beritanya. Kondisi ini juga diamini oleh Indra. Ia mengakui bahwa seringkali jurnalis akan mengalami kesulitan saat menentukan permasalahan mana lagi yang sekiranya menarik untuk dituliskan. Sehingga lagi-lagi, jurnalis dalam menurunkan informasi tentang lumpur Lapindo terjebak pada permasalahan ganti rugi semata.

Setelah sesi pertama selesai, disambung dengan pemaparan dari Yovinus Guntur dari VHRMedia. Guntur dalam kesempatan ini menjelaskan tentang skill dalam menuliskan berita agar menarik untuk dibaca. Gunturpun akhirnya memancing peserta workshop kali ini dengan memunculkan permasalahan yang mereka hadapi. Akhirnya muncul banyak permasalahan dari warga, mulai dari pengabaian hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan, masalah yang mungkin muncul di tempat baru nanti dan lain sebagainya. Dari permasalahan tersebut, lantas Guntur membagi pengalamannya dengan para peserta workshop bahwa dari permasalahan yang unik biasanya akan memunculkan berita yang menarik.

Setelah pemaparan materi jurnalistik dasar yang disampaikan oleh Yovinus Guntur, disusul kemudian dengan materi fotografi yang disampaikan oleh Henri Ismail. Materi-materi fotografi yang disajikan semuanya diambil dari sekitaran lumpur Lapindo. Mulai dari berubahnya mata pencaharain yang dilakukan oleh korban sebelum dan sesudah menyemburnya lumpur. Dalam bingkai foto yang disajikannya, dia berusaha menjelaskan bahwa dengan adanya semburan lumpur ini banyak kehidupan warga yang berubah drastis, dari yang semula buruh pabrik berubah menjadi penjual kopi di tengah jalan. Ini seperti yang dialami oleh Mba Heni. Lebih lanjut, Henri juga menjelaskan untuk menghidupi keluarganya, Mba Heni terpaksa harus menjual kopi di tengah jalan pada waktu malam sampai pagi hari. Tidak hanya Mba Heni yang menjadi objek kameranya, salah seorang warga asal Siring dan saat ini sudah berpindah rumah ke daerah Gedang juga mengalami nasib yang kurang lebih sama. Di tempat barunya tersebut, mereka tidak bisa melakukan banyak aktifitas seperti di tempat semula (Siring). Ini dikarenakan di tempat baru, keluarga korban tersebut harus menyesuaikan dahulu dengan kondisi sekitar.

Setelah Henri selesai memaparkan materi fotografi, Jarwo dari Bingkai Indonesia akhirnya menyampaikan materi tentang pembuatan film-film dokumenter. Dalam kesempatan itu, Jarwo menayangkan hasil-hasil film dokumenter yang telah dibuatnya. Sementara itu, Hisyam dan beberapa teman yang lain yang juga korban lumpur Lapindo ternyata juga telah membuat satu film dokumenter tentang korban lumpur Lapindo. Akhirnya Hisyam menayangkan film dokumenter garapannya dengan beberapa teman yang lain. Setelah ditayangkan, film dokumenter Hisyam yang menturkan jeritan korban lumpur Lapindo mendapatkan beberapa masukan yang datang dari Jarwo sendiri dan juga Indra

Untuk menindaklanjuti warkhsop media skill tersebut, akhirnya para peserta diminta untuk menentukan ketertarikan mereka sendiri-sendiri, apakah mereka tertarik di dunia jurnalistik, fotografi atau pada pembuatan film. Peserta diperbolehkan untuk memilih lebih dari satu ketertarikan mereka. Beberapa peserta terlihat antusias atas follow-up yang direncanakan esok harinya. Beberapa diantara memilih untuk belajar jurnalistik, ada yang fotografi ataupun pembuatan. Ada juga peserta yang tertarik dalam dunia jurnalistik dan fotografi sekaligus. Cak Catur sebagai salah satu dari tim fasilitator mengatakan bahwa besok, ketertarikan mereka harus diwujudkan dengan suatu hasil. Pada bidang jurnalistik, mereka akan diberikan tugas untuk menuliskan berita yang mereka dapatkan, begitu juga dengan fotografi dan pembuatan film dokumenter.

Maka di hari Minggu, tugas-tugas yang telah diberikan di hari sebelumnya mereka kumpulkan. Sementara itu, tugas yang telah terkumpul satu-persatu diperiksa bersama-sama. Ini dimaksudkan agar mereka semua mengetahui letak kekurangan dan kelebihan tulisan mereka di mana. Begitu juga dengan bidang fotografi dan teknik pembuatan film dokumenter.

Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.