Jateng Belum Siap Berlakukan Digitalisasi Penyiaran

Home / Peristiwa / Daerah / Jateng Belum Siap Berlakukan Digitalisasi Penyiaran
By
In Daerah

Jakarta - Pemberlakuan digitalisasi penyiaran jasa televisi mulai tahun 2012 dinilai semakin merumitkan regulasi penyiaran di Jawa Tengah.

“Program itu terkesan memaksakan diri dan cenderung hanya mengutamakan kejar tayang tanpa mempertimbangkan aspek teknis,” kata Koordinator Perizinan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah, Drs H Najahan Musyafak MA, kepada wartawan di Semaranng, Selasa (27/3/2012).

Menurut Najahan, sebagian besar lembaga penyiaran lokal dan masyarakat di Jawa Tengah belum siap memasuki era digitalisasi penyiaran jasa televisi baik dari sisi sosial politik maupun bisnis.

“Untuk migrasi dari teknologi analog ke teknologi digital, penyiaran televisi lokal di Jawa Tengah baru siap secara teknis produksi saja. Apalagi persoalan migrasi itu tidak hanya dilihat dari aspek komponen perangkat keras atau teknis saja, namun juga harus mempertimbangkan persoalan sosial dan politis,” tambahnya.

Selain itu, lanjutnya, perencanaan regulasi dibuat tanpa melibatkan aspirasi publik maupun lembaga penyiaran di daerah.

Karena itu jika pemerintah tetap memaksanakan migrasi dari analog ke digital dan harus “cut off” pada 2015, maka dipastikan, pelaksanaannya akan menimbulkan implikasi serius terhadap masyarakat maupun lembaga penyiaran itu sendiri.

Aturan yang dikeluarkan Menkominfo No 22/ 2011 dan No 95/2012 itu, kata Najahan, bila diberlakukan mulai 2012 rawan persoalan karena masyarakat maupun lembaga penyiaran belum siap.

Apalagi masyarakat selama ini menggunakan TV analog dan untuk bisa menerima TV digital memerlukan perangkat set top box seharga Rp300 ribu.

 

Sumber: berita21.com

Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.