Kajati Babel Diprotes Wartawan

Home / Peristiwa / Daerah / Kajati Babel Diprotes Wartawan
By
In Daerah

PANGKALPINANG – Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, sepertinya masih setengah hati diterapkan oleh banyak badan publik di Provinsi Bangka Belitung. Salah satunya, Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung (Kejati Babel).

Padahal, Kejaksaan Agung (Kejagung) sebagai sentral institusi itu pun sudah menerapkan undang-undang ini, dan wajib mengumumkan informasi publik secara berkala. Tapi sangat berbeda dengan Kejati Babel. Banyak kegiatan yang bersinggungan dengan publik, malah tidak diketahui oleh publik.
Terlebih dalam penanganan kasus korupsi di Provinsi Babel. Entah sengaja atau tidak telah memberlakukan kebijakan ‘menutup-nutupi informasi publik’ itu, namun yang jelas media massa sulit memperoleh informasi publik di Kejati Babel. Apalagi untuk tahu perkembangan penyidikan atau penyelidikan kasus korupsi.

Atas dasar itulah, Senin kemarin (16/10/2012) sekitar pukul 13.30 WIB belasan wartawan media lokal dan nasional baik cetak maupun elektronik mendatangi kantor Kejati Babel di Komplek Perkantoran Pemprov Babel Air Itam Pangkalpinang. Para wartawan memprotes perilaku Kepala Kejati Babel, Budiono yang seolah alergi terhadap pers.

Wartawan menilai pihak Kejati Babel tidak transparan terkait sejumlah kasus korupsi di daerah. Mulai dari perkembangan penyidikan kasus sumur bor, dugaan korupsi dan pemotongan beasiswa di kampus TAIN SAS Babel, penyelidikan kasus dugaan penyelewengan dana hibah Universitas Bangka Belitung (UBB) Rp600 juta yang sudah dilaporkan Permahi hingga sederet laporan korupsi lainnya di Provinsi Babel.

Namun, kedatangan belasan wartawan yang menggelar aksi damai dan berharap dapat bertemu langsung dengan Kepala Kejati, malah menelan kecewa. Budiono selaku Kajati disinyalir kabur dan terkesan bersembunyi dari wartawan. Terlebih ketika ia melihat kedatangan rombongan wartawan ke kantornya. Sebab, sebelum aksi digelar wartawan sudah mendapt bocoran Budiono ada di kantornya.

Akhirnya wartawan hanya disambut oleh Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Babel, Rindang Onasis dan Kasi Asintel, Timbul Pasaribu.

Dalam pertemuan dengan perwakilan Kejati itu, Ryan Agusta wartawan Bangka Pos menyampaikan maksud kedatangan mereka ke kantor Kejati Babel. Katanya kedatangan para wartawan ingin bertemu langsung dengan Kajati Babel, Budiono. Sebab, wartawan menilai Kejati Babel sangat tertutup atau tidak transparan terhadap pekerja pers yang biasa meliput di Kejati Babel. Sehingga para wartawan mengalami kesulitan dalam mencari informasi untuk kepentingan peliputan terkait kasus-kasus korupsi yang sedang ditangani oleh pihak Kejati.

“Seperti ada dua kasus korupsi yang saat ini sedang ditangani pihak Kejati Babel, yakni kasus korupsi proyek sumur senilai Rp5,2 miliar dengan dugaan kerugian Rp1,5 miliar dan kasus korupsi di STAIN SAS Babel dengan dugaan penyimpangan keuangan negara atau kasus beasiswa, sampai saat ini tidak jelas kelanjutannya seperti apa,” ungkap Ryan.

“Kami sesalkan sekali kenapa level seorang Kepala Kejaksaan Tinggi sampai harus pergi ketika wartawan ingin bertemu untuk wawancara ataupun dialog atas kasus-kasus yang ditangani oleh penyidik Kejati. Mestinya, kesempatan yang baik seperti inilah, Budiono bisa untuk bertemu dan berbincang dengan wartawan,” tambah Ngadianto wartawan lainnya.

Menyikapi hal itu Kasi Intel, Timbul Pasaribu beralasan kalau kehadiran para wartawan ini tidak diduga-duga sehingga pihaknya tidak siap. Lucunya lagi, Timbul mengatakan mestinya kehadiran wartawan dalam jumlah belasan tersebut, harus disertai dengan surat informasi untuk bertemu dengan Kajati.
“Sehingga kita bisa mengkondisikan siapa-siap saja perwakilan Kejaksaan Tinggi yang dapat mewakili untuk menjawab pertanyaan wartawan,” tukas Timbul seraya menjawab pihaknya sudah mengkonfirmasi ke Budiono atas kehadiran wartawan, namun Kajati tidak berada di tempat.

“Kita sudah konfirmasi, tapi Pak Kajati sedang keluar. Dan saya yang mencoba untuk memediasinya. Kita mencoba untuk bisa berkomunikasi baik. Saya sendiri memang tidak memiliki kewenangan untuk memberikan informasi. Tapi saya mencoba untuk menjembatani persoalan ini,” ujar Timbul Pasaribu.
Mendengar hal itu wartawan menolak tegas kalau sampai dalam peliputan wartawan harus disertai dengan surat ala birokrasi. Menurut Ryan, pers dalam menjalankan tugasnya cukup disertakan dengan kartu pers.

“Kami sudah sering mendapatkan informasi seperti kasus korupsi itu melalui Pidsus, tetapi jawaban dari Pidsus cuma standar, dan itu-itu saja. Maka dari itu kami inginkan Kajati Budiono dapat berbicara dengan pers seperti saat ini,” tegas Ryan kembali.  Dalam kacamata wartawan, Budiono selama menjabat sebagai Kajati Bangka Belitung terkesan menutup diri dari pers. Padahal banyak kasus korupsi yang ditangani oleh Kejati. Diantaranya korupsi sumur bor, korupsi KONI, UBB, hingga proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kabupaten Bangka Selatan yang tidak ada kabarnya lagi.

“Kenapa sampai takut berbicara dengan media, padahal publik Bangka Belitung ingin tahu sampai mana penanganan kasus korupsi selama ini. Semestinya selaku pimpinan tertinggi harus berani mengatakan kepada pers apa yang terjadi dan bukanya diam-diam dan kabur,” sesal Ryan.
Buntutnya, karena tidak ada kejelasan atas pertemuan dengan Budiono, para wartawan membubarkan diri dari kantor Kejati, meski pihak Kejati berjanji akan bersikap transparan dalam informasi yang dibutuhkan publik serta mempertemukan wartawan dengan Kajati Babel pada pekan depan.
Sembari keluar dari kantor Kejati, para wartawan memajangkan poster karton berisi tulisan ‘Budiono Ngomong Donk’, ‘Kajati Budiono Harus Jantan’, dan lain sebagainya.

Sumber : www.rakyatpos.com

Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.