Kita Berhak Tahu Apa dan Siapa Pencemar Citarum

Home / Peristiwa / Daerah / Kita Berhak Tahu Apa dan Siapa Pencemar Citarum
By
In Daerah

BANDUNG.- Puluhan aktivis lingkungan menyerahkan sampel air Sungai Citarum pada Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD)Jawa Barat di Jalan Naripan, Kota Bandung, Jumat (28/9/12). Sebanyak 11 botol berisi sampel air dan limbah industri yang berasal dari enam titik di daerah aliran air Sungai Citarum diberikan pada BPLHD dalam rangka Hari Hak untuk Tahu (Right to Know Day). Para aktivis ingin menanyakan bahan kimia beracun dan berbahaya (toksik) apa yang terkandung dalam air tersebut dan industri mana yang menyebabkannya.

Para aktivis yang terdiri dari Greenpeace, Walhi Jabar, Komunitas Elingan, dan masyarakat yang mengenakan baju Hazmat (Hazardous Material) atau baju steril antiradioaktif. Mereka bergerak dari lima titik Kota Bandung yaitu, Simpang Dago, Bandung Indah Plaza (BIP), Cihampelas, Gedung Sate, dan ALun-Alun.Sambil membawa botol dan foto saat pengambilan sampel aktivis ingin memberitahu pada masyarakat bahwa sumber air di Jabar terancam oleh polusi yang membahayakan.

Beberapa hari sebelumnya, aktivis Greenpeace mengambil sampel dari badan air dan titik pembuangan di daerah Padalarang, Baleendah, Rancaekek, dan Majalaya.

“Ini lebih dari sekedar 11 botol, itu hanya simbolis. Kami ingin BPLHD memeriksa secara keseluruhan di titik S. Citarum. Semua tahu Citarum tercemar, tapi tidak ada yang tahu bahan apa dan siapa penyembabnya. Pada sisi lain, masyarakat harus tahu dan paham kalau kita punya hak untuk tahu apa dan siapa yang meracuni sumber air,” kata Jurukampanye Air Bebas Toksik Greenpeace Ahmad Ashov saat dihubungi “PRLM” di Bandung.

Para aktivis meminta pada pemerintah agar memberi informasi pada masyarakat mengenai pengelolaan bahan beracun dan berbahaya yang tersedia secara publik. Mereka juga berharap agar ada aksi nyata dari pemerintah dan perusahaan industri khususnya di sepanjang SUngai Citarum untuk menghentikan terjadinya polusi air. Hal ini penting untuk kepastian masa depan yang bebas dari bahan kimia beracun dan berbahaya.

BPLHD menurut Ahmad sudah menerima botol dari para aktivis. BPLHD juga berjanji akan memeriksa air tersebut. Namun, Namun pihak BPLHD mengaku sulit mengidentifikasi industri pencemar S. Citarum akibat ketidakjelasan pipa pembuangan limbah dari beberapa perusahaan. Oleh karena itu, Ahmad mendorong pemerintah melakukan pendekatan pencegahan dan pengurangan pemakaian bahan beracun dan berbahaya (B3).

Sementara itu, Direktur Walhi Jabar Dadan Ramdan juga turut mendesak pemerintah membuka akses informasi seluas-luasnya mengenai kebijakan penanganan Citarum. “Ini wujud pemenuhan hak masyarakat karena tercantum juga di UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) pasal 65 ayat 2,” katanya.

Selain itu, sebagai penerima penghargaan internasional dalam bidang lingkungan serta sebagai salah satu ketua panel tingkat tinggi United Nation untuk agenda pembangunan pasca 2015, Presiden SBY menurut para aktivis, perlu diingatkan tentang kepastian masyarakat untuk mendapat air bersih. Hal ini menjadi salah satu target Millenium Development Goals (MDG’s).

Seniman Tisna Sanjaya juga turut berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan melukis pakaian aktivis. Lukisannya mengekspresikan kondisi lingkungan khususnya air yang semakin tercemar.

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.