MediaLink Mencita-citakan Komunitas Informasi yang Berdaya

Home / Analisa / Diskusi & Wawancara / MediaLink Mencita-citakan Komunitas Informasi yang Berdaya

JAKARTA“Proses kematangan akan tumbuh seiring dengan perjalanan usia”, pernyataan ini sekiranya tepat untuk menggambarkan wujud baru dari MediaLink. NGO non-profit yang bergerak pada isu akses informasi publik ini melakukan refleksi menyeluruh atas kinerja kelembagaan selama waktu tiga tahun yang terlalui. Bukan bermaksud mengubah total tatanan lembaga yang telah terbangun dari awal pendirian pada Juni 2010, melainkan untuk menyempurnakan kembali alur kerja yang sudah terbentuk agar mengalir sesuai dengan visi-misi-strategi MediaLink.

Terbentuk dari sebuah kegelisahan, penanggung jawab MediaLink Ahmad Faisol mengatakan. “Informasi harus menjadi basic power masyarakat, seperti isu korupsi yang sudah menjadi pengetahuan masyarakat Indonesia sekarang,” ujarnya, Kamis (3/7/13). Ia memaparkan bahwa persoalan keterbukaan atau akses informasi publik saat ini belum menjadi isu utama dalam masyarakat Indonesia, tidak seperti kasus korupsi yang sudah menjelma menjadi common issue. Padahal 15 tahun yang lalu, isu korupsi juga masih meraba-raba di arus utama permasalahan sosial Indonesia, namun saat ini isu tersebut telah meroket ke puncak problematika negara, menjadi pengetahuan yang tercetak di dalam kepala rakyatnya. Bertolak dari fenomena tersebut, MediaLink berambisi untuk menunaikan impian besarnya agar mampu melahirkan “komunitas informasi” melalui pembentukan knowledge of information.

Pengetahuan tentang informasi (knowledge of information) dapat terwujud melalui kesadaran masyarakat atau komunitas-komunitas untuk bisa mengakses informasi demi kepentingan mereka. Mengakses informasi berarti mencakup kemampuan mencari, memperoleh, mengolah, memanfaatkan, bahkan mereproduksi informasi tersebut.  Bila saat ini akses informasi hanya dikuasai oleh segelintir pihak dari golongan pemerintah, swasta, maupun masyarakat menengah, maka sudah waktunya kelompok masyarakat yang lebih kecil, yakni komunitas-komunitas yang terpinggirkan secara politik-ekonomi maupun secara geografis, juga bisa menikmati informasi tersebut.

Kemampuan komunitas dalam mengakses informasi publik untuk memenuhi kepentingan mereka, menunjukkan bahwa mereka telah memiliki pengetahuan tentang informasi. Dan bila bila seluruh komunitas dapat saling terhubung untuk mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan, di titik itulah tercipta komunitas informasi sebagaimana yang dicita-citakan oleh MediaLink.

“Tugas MediaLink dalam hal ini sesungguhnya sebatas menyediakan tools untuk membuka akses bagi komunitas-komunitas agar dapat mendaya-gunakan segala macam informasi yang mereka butuhkan demi kemaslahatan sosial. Dan demi mewujudkannya MediaLink tentu saja tidak bekerja sendiri melainkan bermitra dengan lembaga lain untuk menyebarkan dan membentuk pengetahuan mengenai akses informasi berbasis komunitas,” kata Faisol.

Belajar dari pengalaman selama dua tahun pertama berdirinya MediaLink, lembaga ini tidak lagi sekadar menyelenggarakan kampanye pengenalan UU No. 14 tahun 2008 mengenai Keterbukan Informasi Publik (KIP) untuk membangun kesadaran masyarakat akan kesetaraan akses informasi bagi masyarakat luas, sebab hal tersebut justru memberikan gambaran menakutkan akan kerumitan cara mengurus ataupun sanksi-sanksi yang mengikutinya, lanjutnya. Sehingga positioning MediaLink berpindah pada pijakan yang lebih dasar untuk mengetahui terlebih dahulu kebutuhan dari komunitas tersebut sebelum memberikan pemahaman bahwa kunci keluar dari persoalan mereka adalah “pengetahuan akan keterbukaan akses informasi publik”. *

(c) MediaLink

Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.