Problem Kebijakan Telekomunikasi di Indonesia: Pro-pemodal atau pro-publik?

Home / Analisa / Diskusi & Wawancara / Problem Kebijakan Telekomunikasi di Indonesia: Pro-pemodal atau pro-publik?

Meski ditetapkan pada era reformasi, sesungguhnya Undang-Undang no 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi bukan lahir dari proses dan rahim reformasi. Kalau pun mau dihubungkan dengan waktu tahun 1999. Undang-Undang Telekomunikasi sebenarnya anak haram reformasi. Ia telah dirancang beberapa tahun sebelumnya.
“Sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang Telekomunikasi, konsep awalnya adalah deregulasi dan liberalisasi pada tahun-tahun sebelumnya, itulah sebabnya tampak kolaborasi antara negara dan kapital/pasar besar. Negara atau pemerintah memberikan kebebasan pada pasar dan pemodal asing,” ujar Amir Effendi Siregar, Ketua PR2Media Yogyakarta.
Imbasnya, media di Indonesia dikuasai oleh segelintir pemodal besar dan sedikit pemain lokal. Ini jelas mempengaruhi dari sisi ekonomi nasional dan juga content media. Kesenjangan antara pusat dan daerah, kota dan desa sangat terasa. Padahal jika dibandingkan di Amerika Serikat yang penduduknya berjumlah sekitar 300 juta jiwa, berlangsung sistem stasiun jaringan dan stasiun lokal. Terdapat sekitar 1750 stasiun televisi lokal, 380 diantaranya adalah non komersial. Ada yang milik jaringan atau grup/kelompok, ada yang berafiliasi pada kelompok dan  ada yang independen,” tambah Amir. Dengan banyaknya stasiun televisi lokal jelas meniscayakan content lokal menjadi pilihan.

“Sesungguhnya industry telekomunikasi kita sangat memprihatinkan. Bukan hanya soal pusat dan daerah, tetapi ketimpangan juga terjadi antara infrastruktur dan content,” jelas, Rahayu, peneliti PR2Media. Kita, selalu mengatakan, harus bangun infrastruktur lebih dulu agar industry telekomunikasi menjadi kuat. Padahal tidak bisa demikian, content dan infrastruktur harus berbarengan. “Bayangkan dengan infrastruktur yang canggih, tetapi anak-anak muda kita hanya bisa download film-film porno,” tambah Rahayu. Justru di content inilah kita bisa berdaulat, tatkala di bidang teknologi kita masih menjadi konsumen atau pasar. Karena itu Rahayu menegaskan, “Di contentlah masa depan kita.”

Karena itulah menjadi penting perubahan UU Telekomunikasi. Termasuk yang tidak kalah pentingnya adalah actor-aktor yang terlibat. “DI UU Telekomunikasi yang ada sayangnya, sedikit menyebut Negara, tapi sisanya bicara bisnis, bisnis, dan bisnis,” terang Rahayu. Padahal, ada bagian masyarakat, yaitu komunitas. Padahal di dalam dunia telekomunikasi, peran komunitas sangat penting. Ia membawa keragaman dan kekayataan content yang luar biasa, termasuk menggerakkan ekonomi daerah. Ironisnya, ini tidak menjadi perhatian. Misalnya saja saat bertanya pada Kominfo, adakah pengaturan mengenai televise komunitas, mereka menjawab, belum ada. Lalu di mana peran masyarakat?
Dari problem-problem ini sesungguhnya yang lebih disayangkan ternyata pemerintah tidak memiliki roadmap telekomunikasi, yang menjadi dasar bagi pemetaan dunia telekomunikasi. Kalau toh ada itu sudah kadaluarsa. Bagaimana telekomunikasi kita akan tertata, jika roadmap yang menjadi dasar tidak dimiliki. Akan kacau dunia telekomunikasi sampai kapanpun.
Karena itu, dari riset yang dilaksanakan di lima kota, yaitu Jakarta, Medan, Makassar, Bandung dan  Yogyakarta, menyimpulkan. Pertama, kebijakan dan regulasi telekomunikasi dan penyiaran harus saling terkait dan berhubungan serta berdasarkan sebuah landasan filosofis dan ideologis yang sama. Ini adalah bidang yang meskipun berbeda tapi merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Regulator telekomunikasi dan penyiaran harus saling terkait dan berhubungan erat. Bila perlu menjadi satu kesatuan.
Kedua, dalam penyusunan kebijakan dan regulasi harus mengutamakan kepentingan nasional. Ketiga, roadmap dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan penyiaran harus segera dibuat dan dilakukan di Indonesia.
Keempat, Indonesia memang terikat pada ketentuan ITU, tapi kepentingan nasional, baik itu menyangkut manufaktur peralatan teknologi maupun konten. Sehingga bisa berperan penting dan menentukan dalam percaturan global.

Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.