Warga Besuki Identifikasi Seputar Masalah Korban Lumpur

Home / Kegiatan / Akses Informasi / Warga Besuki Identifikasi Seputar Masalah Korban Lumpur

BESUKI – Hari menjelang gelap. Satu persatu warga Besuki dan kawan-kawan dari berbagai lembaga mulai berdatangan di Sanggar Alfaz. Kedatangan mereka ini untuk memusyawarahkan dan mengidentifikasi permasalahan apa saja yang saat ini terjadi di Desa Besuki. Kedatangan mereka Jumat malam itu (14/09/2012) tentu berharap bahwa kondisi korban Lapindo bisa berubah lebih baik daripada saat ini.

Jagongan malam yang dipandu oleh Cak Nusantara ini dihadiri cukup banyak peserta. Ini seperti yang dituturkan oleh Muhammad Irsyad, Pengasuh Sanggar Alfaz, dan juga dibenarkan oleh Mujtaba Hamdi, bahwa jagongan malam itu tidak seperti biasanya. Lebih dari 15 orang berkumpul di Sanggar Alfaz, mulai dari warga Besuki sendiri dan juga beberapa perwakilan lembaga yang mempunyai kepedulian terhadap isu lumpur Lapindo.

Jagongan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi bersama permasalahan yang harus mendapatkan prioritas utama untuk segera diselesaikan. Catur Nusantara menekankan sudah saatnya untuk lebih memperinci pembagian-pembagian tugas terkait dengan nasib korban lumpur Lapindo. Strategi ini tidak terlepas karena permasalahan yang dihadapi korban lumpur Lapindo semakin hari semakin kompleks.

Rokhim, salah seorang warga korban Lapindo mengatakan bahwa untuk masalah kesehatan terdapat banyak ibu-ibu di Desa Besuki yang masih belum memiliki kartu Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) dan Jaminan Persalinan (Jampersal). Padahal ibu-ibu tersebut sangat membutuhkan dua jaminan kesehatan ini.

“Menurut saya, itu (kesehatan, red) yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Baru setelah itu selesai, masalah pendidikan, pelayanan pemerintah desa dan rencana relokasi menjadi prirotas lanjutan,” tutur Rokhim. Apa yang diungkapkan oleh Rokhim ini juga diamini oleh beberapa warga lainnya yang malam itu datang di acara jagongan, seperti Irsyad, Hasyim, Yusuf dan yang lainnya.

Irsyad juga menuturkan bahwa keempat permasalahan yang menjadi skala proritas tersebut haruslah mendapatkan pengawalan. Ini lebih baik untuk menjamin bahwa permasalahan tersebut berhasil seperti apa yang diharapkan oleh warga Besuki. Ia lantas mencontohkan tentang rencana relokasi warga yang dimanfaatkan secara sepihak oleh para pengembang dan warga yang kemudian menjadi korban lanjutan.

Jagongan kali ini menghasilkan usulan untuk memperkuat dan memperluas cakupan informasi melalui adanya pengawalan warga. Dengan adanya informasi yang terbuka, maka setidaknya semakin banyak warga yang mengetahui proses penyelesaian beberapa masalah utama warga. Media penyebaran informasi yang dapat dikembangkan warga amtara lain melalui media radio komunitas, selebaran, informasi gethok tular, maupun yang lainnya.

Cc : MediaLink

 

Recent Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.